Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
» Perkembangan Florentina
Wed Oct 29, 2014 12:46 pm by jibril

» obat bius SLEEPING BEAUTY MANJUR top
Sun Sep 14, 2014 8:26 am by pil biru

» penis ikat pinggang ALAT BANTU SEX super murah
Sun Sep 14, 2014 8:24 am by pil biru

» pusat obat kuat pil biru dan levitra manjur
Sun Sep 14, 2014 8:21 am by pil biru

» CALON WARGA ORCHID F ( OF )
Fri Aug 22, 2014 5:44 pm by rethahtp

» Bantu Info2 tuk Serah Terima
Fri Aug 22, 2014 4:48 pm by rethahtp

» Adanya pasar tradisional di area Orchid
Fri Aug 22, 2014 4:31 pm by rethahtp

» serah terima Quince Bloosom?
Tue Aug 05, 2014 10:06 pm by lamboks

» REQUEST PAGAR PEMBATAS ANTARA DURIO II DGN KAMPUNG ATAS
Tue Aug 05, 2014 4:56 pm by ARIO TPUNK


Harvest City perumahan baru di Cileungsi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Harvest City perumahan baru di Cileungsi

Post  indoroids on Sun Dec 13, 2009 6:52 am



Harvest City perumahan baru di Timur Cibubur. Akankah trend pengembangan perumahan cibubur akan mengarah ke koridor Cileungsi? Kemungkinan jawabannya adalah bisa jadi, karena sepanjang koridor ini sampai ke jonggol atau bahkan cariu tanah kosong yang ada adalah sangat luas sekali yang mencakup almarhum Bukit Jonggol Asri seluas 30,000 Hektar.

Dikoridor Cileungsi – Jonggol, tepatnya di depan Taman wisata (taman buah) mekarsari sedang dikembangkan proyek dengan lahan yang lumayan luas, dimana direncanakan tanah seluas 1050 hektar akan dikembangkan menjadi perumahan HARVEST CITY, yang lebih luas dikit bilamana dibandingkan dengan Kota Wisata yang mempunyai ijin prinsip 1000 Hektar.

Perumahan Harvest City merupakan pengembangan perumahan skala kota yang dibangun oleh PT Dwikarya Langgeng Sukses, konsorsium bentukan tiga pengembang yang terdiri atas Grup Suryamas Dutamakmur, Grup Duta Putera Mahkota dan Grup Kentanix Supra Internasional, dimana komposisi sahamnya adalah sebagai berikut: saham Grup Suryamas Dutamakmur sebagai mayoritas (sebanyak 50%) dan masing-masing 25% disumbang Grup Kentanix Supra Internasional dan Grup Duta Putra Mahkota.

Direncanakan akan didirikan lebih dari 10.000 unit rumah di Harvest City dengan tipe variatif, mulai tipe kecil, menengah hingga mewah dimana konfigurasi ini mewakili latar belakang tiga pengembang tersebut yang memang memiliki spesialisasi masing-masing. Yakni Grup Suryamas Dutamakmur yang popular dengan portofolio perumahan mewah di Rancamaya, Bogor dan Mahogany Residences, Cibubur. Sedangkan Grup Duta Putera Mahkota dan Kentanix Supra Internasional telah lama dikenal sebagai pengembang perumahan skala menengah-bawah. Macam Vila Dago, Pamulang (Tangerang), Cibubur Riverside dan Vila Nusa Indah 1-5, Bekasi.

Tentu saja kehadiran Harvest City akan bakal menambah semarak pasar dan kompetisi properti di koridor Cileungsi-Mekarsari dan semakin ketatnya persaingan dikoridor ini yang sebelumnya sangatlah terbatas oleh Taman Metropolitan yang dikembangkan oleh Grup Metropolitan Land dan Citra Indah milik Grup Ciputra. Apalagi bila ruas jalan yang akan menghubungkan tol Jagorawi dengan tol Cikampek sepanjang 25,358 kilometer nantinya jadi dilaksanakan dan rampung, sangat besar potensi yang bisa digarap oleh harvest dan disamping itu terdapat industri-industri yang berlokasi di sekitar dan berjarak tak jauh dari tiga proyek itu misalkan Bukaka Industry Complex, Kawasan Industri Menara Permai, Caterpillar, Wijaya Karya Industrial Estates, dan sebagainya.

Akankah Citra Indah akan lesu dengan kehadiran Harvest City? Masing masing punya kelebihan dan kekurangan. Cobalah lihat peta, tarik garis lurus kesemua arah mata angin dalam radius kurang dari 8 km, maka anda akan tahu dengan sendirinya kelebihan kekurangannya yang paling utama

Submitted by Alamanda (http://www.citraindahrumahku.com/) on March 18, 2009 – 11:24 pm

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx



Harvest City, Hidupkan Koridor Cileungsi-Mekarsari
Posted on Oktober 28, 2008 by hildalexander (http://hildalexander.wordpress.com/)

Setelah era Cibubur lewat, tren pengembangan di tenggara Jakarta sekarang mulai mengarah ke koridor Cileungsi-Mekarsari. Jika lebih dari satu dekade lalu, proyek yang dibangun masih bisa dihitung dengan sebelah jari tangan, kini berbeda jauh kondisinya. Di setiap jengkal lahan, terdapat plang nama proyek baru. Entah itu proyek milik perusahaan berbadan hukum atau individu.

Yang terbaru adalah Harvest City. Tak main-main, ini merupakan proyek dengan luas lahan terbesar yang pernah direncanakan dan segera diimplementasikan, yakni 1.050 Ha. Lebih luas dibandingkan Kota Wisata, sebagai ikon kawasan Cibubur yang ‘hanya’ memiliki ijin prinsip 1.000 Ha. Luasan lahan Harvest City hanya bisa dikalahkan oleh proyek ‘almarhum’ Bukit Jonggol Asri, 30.000 Ha.

Harvest City merupakan pengembangan perumahan skala kota yang dibangun oleh PT Dwikarya Langgeng Sukses, konsorsium bentukan tiga pengembang yang terdiri atas Grup Suryamas Dutamakmur, Grup Duta Putera Mahkota dan Grup Kentanix Supra Internasional. Mereka sepakat menjalin kolaborasi strategis dengan komposisi saham Grup Suryamas Dutamakmur sebagai mayoritas (sebanyak 50%) dan masing-masing 25% disumbang Grup Kentanix Supra Internasional dan Grup Duta Putra Mahkota.

Di atas lahan yang lokasinya persis berseberangan dengan wahana rekreasi Taman Buah Mekarsari ini akan didirikan lebih dari 10.000 unit rumah dengan tipe variatif. Mulai tipe kecil, menengah hingga mewah. Konfigurasi ini sesuai dengan latar belakang tiga pengembang tersebut yang memang memiliki spesialisasi masing-masing. Seperti Grup Suryamas Dutamakmur yang popular dengan portofolio perumahan mewah di Rancamaya, Bogor dan Mahogany Residences, Cibubur. Sementara Grup Duta Putera Mahkota dan Kentanix Supra Internasional telah lama dikenal sebagai pengembang perumahan skala menengah-bawah. Macam Vila Dago, Pamulang (Tangerang), Cibubur Riverside dan Vila Nusa Indah 1-5, Bekasi.

“Ini adalah sinergi positif. Tiga pengembang dengan kemampuan mumpuni di bidangnya masing-masing bersatu membangun proyek perumahan terpadu. Proyek ini akan menjadi katalisator pertumbuhan properti khususnya dan ekonomi umumnya di koridor Cileungsi-Mekarsari,” ujar Presiden Direktur Grup Duta Putera Mahkota, Herman Sudarsono.

Kehadiran Harvest City diproyeksikan bakal menambah semarak pasar dan kompetisi properti di koridor Cileungsi-Mekarsari. Sebelumnya, pasar diramaikan oleh proyek besar yang jumlahnya terbatas. Mereka adalah Taman Metropolitan yang dikembangkan oleh Grup Metropolitan Land dan Citra Indah milik Grup Ciputra. Kedua proyek ini dianggap sebagai ‘kelas gurem’, belum bisa menandingi superioritas dua bersaudara Kota Wisata dan Legenda Wisata (Grup Duta Pertiwi).

Taman Metropolitan dan Citra Indah memang tidak dirancang sebagai perumahan terpadu. Tak heran jika sejak dibangun pada kurun 1997/1998, hingga tiga tahun lalu, kedua proyek ini belum bisa menarik minat, alih-alih menciptakan selera pasar. Dalam perkembangannya kemudian, Grup Metropolitan Land kemudian melakukan segregasi atas Taman Metropolitan dan melahirkan Taman Cileungsi yang kelasnya jauh lebih rendah dan menyasar pasar lebih spesifik yakni para pekerja pabrik di sekitar kawasan industri Narogong-Cileungsi-Citeureup-Cibarusah. Hal serupa dilakukan Citra Indah yang mengandalkan produk mungil tipe 21, 27 dan 36 demi mendapat kue pasar yang sejatinya sangat besar jika digarap dengan serius.

Sekarang, dengan konstelasi bisnis yang jauh berbeda, akan sangat menarik mencermati rivalitas Harvest City, Taman Metropolitan dan Citra Indah. Harvest City diuntungkan oleh kesegaran konsep yang diusungnya dan gimmick kelengkapan fasilitas seperti katakanlah Harvest City Mall, Culinary Market, The Harvest Walk, Discovery Park, Sport Center, Urban Forest dan Food Carnaval yang kesemuanya berada pada area komersial.

Taman Metropolitan tak mau terlalu kaku dengan konsep awal yang mengkhususkan diri menyediakan rumah kelas menengah atas. Mereka juga bermain di kelas 28/90 sampai 54/104 seharga Rp129,5 juta dan Rp260 juta. Citra Indah kian memantapkan market positioning-nya sebagai pemasok rumah sederhana strata 21/60 dengan harga penawaran Rp47 juta. Meski begitu, mereka tetap menggarap pasar lebih atas yakni tipe 66/300 yang dipatok Rp321 juta. Profil pembeli rumah dengan dimensi demikian adalah mereka yang sudah menempati posisi middle level manager.

Harvest City sendiri akan dibangun dalam tiga tahap. Tahap pertama seluas 150 Ha yang terdiri atas 5.000 unit rumah high density dengan harga penawaran perdana dimulai dari Rp146,8 juta untuk tipe 43/78 hingga Rp250,4 juta untuk dimensi 66/136 yang berada dalam area klaster Dianthus. Tahap kedua yang akan digarap adalah area komersial seluas 300 Ha. Berbarengan dengan ini, akan dibangun pula rumah medium density seluas 100 Ha. Area pengembangan tahap kedua akan dilintasi tol Cimanggis-Cibitung. Tahap ketiga merupakan tahap akhir pengembangan, di mana PT Dwikarya Langgeng Sukses berkonsentrasi pada pembangunan rumah low density dan high rise building serta light industry yang fokus pada penyediaan fasilitas ruang pergudangan.

Menyimak penawaran-penawaran yang diajukan oleh ketiganya, tak pelak membuat persaingan kian ketat, untuk tidak dikatakan sengit. Ketiganya sangat mengandalkan akses Jalur Transyogi yang mengarah pada Jl Raya Cileungsi-Mekarsari, Jl Raya Narogong dan Jl Cibarusah, Bekasi. Apalagi dengan adanya rencana pembangunan Ruas Tol Cimanggis-Cibitung yang merupakan bagian dari Jakarta Outer Ring Road (JORR) II, ikut memotivasi kembali bergairahnya pasar properti di kawasan ini. Momentum ini dimanfaatkan betul oleh ketiganya.

Betapa tidak, jika ruas jalan yang akan menghubungkan tol Jagorawi dengan tol Cikampek sepanjang 25,358 kilometer ini rampung, sangat besar potensi yang bisa digarap. Ketiga perumahan ini berpeluang ‘mencegat’ komuter yang bekerja di Bekasi, Jakarta, maupun Bogor yang diperkirakan mencapai sejumlah 109.000 lebih per hari yang akan menggunakan jalur tol ini. Belum lagi industri-industri yang berlokasi di sekitar dan berjarak tak jauh dari tiga proyek itu. Sebut saja Bukaka Industry Complex, Kawasan Industri Menara Permai, Caterpillar, Wijaya Karya Industrial Estates, dan lain-lain.

“Faktor-faktor eksternal inilah yang menarik kami untuk menjalin kerjasama pengembangan. Pasar Cileungsi-Mekarsari dan bahkan Jonggol belum terakomodasi dengan baik. Kami membaca pasar di sini akan sangat berkembang dan tumbuh jauh lebih pesat,” ujar General Manager Grup Kentanix Supra Internasional, Kumala Dewa.

Betul saja, kendati baru akan dirilis ke pasar awal November ini, harga lahan di Harvest City sudah merangkak ke angka Rp400.000/m2 dari sebelumnya hanya Rp100 ribu-150.000/m2. “Patokan harga aktual sekarang adalah fenomena tes pasar yang kami lakukan beberapa bulan sebelumnya. Dan harga jual akan berubah naik saat pengumuman resmi. Angkanya sekitar 5-10%,’ ungkap Sales Manager Harvest City, Erwin Kurniawan

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx



Cileungsi mulai bersinar.
Kontan Minggu II Desember 2008 hal 24 ( J. Ani Kristanti, Epung Saepudin )

Sebagai hasil kolaborasi dari tiga pelaku industri properti, Dwikarya Langgeng Sukses akan mengembangkan sebuah kota mandiri Harvest City seluas 1.050 hektar. Setelah sekian lama gaung perkembangan properti lebih banyak terdengar di kawasan Serpong dan Tangerang di barat Jakarta, kini gaung itu juga telah merambat hingga kawasan timur. Lihat saja, akan ada sebuah kota mandiri baru yang erjuluk Harvest City. Tepatnya, kota ini mau menyembul di Celeungsi.

Adalah Dwikarya Langgeng Sukses yang akan mengembangkan Harvest City. Tak tanggung tanggung si pengembang mendirikan kota mandiri di lahan seluas 1.050 hektare. Lantas, siapa Dwikarya Langgeng Sukses ini ? Meski namanya baru terdengar, sejatinya Dwikarya bukan pemain baru di bidang properti. Dwikarya merupakan hasil kolaborasi dari tiga pengembang, yakni grup suryamas Duta makmur, grup Duta Putra Mahkota, dan Grup Kentanix Supra Internasional. Ketiga pengembang itu membentuk konsorsium dengan komposisi saham Grup Suryamas Dutamakmur sebagai pemegang saham mayoritas, yakni sebanyak 50%. Sedangkan sisanya masing- masing 25% dimiliki Grup Duta Putera Mahkota dan Grup Kentanix Supra Internasional. Dengar adanya kolaborasi dari tiga pengembang serta lahan yang sangat luas, boleh jadi Harvest City bakal menjadi proyek terbesar di kawasan Cileungsi. Lebih lagi, lokasinya yang tepat berhadapan dengan Taman Buah Mekarsari.

Tak ayal, Havest City lebih mudah mengorbit. Kondisi ini tentu saja mengubah wajah Cileungsi. Sebelumnya, Cuma segelintir pengembang yang mengusik daerah ini. Malah hanya ada dua pengembang besar yang bercokol di sini, yakni grup Metropolitan yang mengembangkan Taman Metropolitan dan grup Ciputra yang memiliki Citra Indah Sementara, Bukit jonggol Asri yang dulunya akan menjadi proyek besar belakangan justru tenggelam, mencari arah.

Mungkin saja tak banyak pengembang tertarik menancapkan fondasinya di Cileungsi, lantaran lokasinya yang cukup jauh dari Jakarta. selain itu, pengembangan Cileungsi seolah tertahan oleh pertumbuhan yang super mekar di kawasan Cibubur. Letak Cibubur yang lebih dekat dengan Jakarta kemudian menjadi maknet baru di timur Jakarta. “ Sudah begitu, perkembangannya bukan melebar ke Cileungsi, tapi justru melebar kea rah T.B Simatupang, “ ujar Ali Tranghada , Business Development Advisor Pusat Strategi Intelijen Properti.

Alhasil, butuh waktu yang lama memelarkan perkembangan Cibubur kea rah Cileungsi. Makannya, lahan yang super luas belum tentu akan mempercepat pertumbuhan kawasan Cileungsi . menurut Ali , Harvest City harus mempunyai strategi pengembangan yang cukup bagus agar dilirik para konsumen. “ Minimal, konsepnya harus terbangun dengan baik, “ ujar Ali. Untuk mengejar waktu perkembangan lebih cepat mengarah ke Cileungsi, pengembang tampaknya juga harus punya keunikan untuk pemikat calon penghunnya.

Lantas, Ali memberi contoh konsep pengembangan kota wisata yang menjual China Town dan kampong wisata lainnya untuk memikat pengunjung. Untuk mengejar perkembangan lebih cepat kea rah Cileungsi ini, pengembang harus punya keunikan. “ Inilah keunikan yang membuat Kota Wisata tetap ada yang beli. Jadi, meskipun jauh, tetap diburu pembeli, “ ujar Ali.

Di samping itu, Anton Siturus Kepala riset Jones Lang Laselle Indonesia, mengungkapkan bahwa perlu adfa konsistensi pengembang untuk menjadikan Cileungsi hidup, terutama dalam membangun infrastruktur menuju kawasan tersebut. Pasalnya, pengembang tak bisa mengandalkan akses Cibubur yang sudah terlampau padat.

“ Lokasi yang jauh tidak akan menjadi masalah bila akses menuju lokasi bagus dan mudah, “ kata Anton. Tak lupa Anton menyebutkan pula contoh proyek lippo Karawaci dan Lippo Cikarang yang memiliki kemudahan akses. “ Biarpun lokasinya jauh, tapi infrastruktur jalan menuju kedua kawasan itu bagus. Akibatnya, kedua kawasan itu juga cepat pertumbuhanya, “ tutur anton. Pengembangan kota dalam tiga tahap Dwikarya sendiri mengaku mengusung konsep sebagai kota mandiri untuk mengembangkan lahan di Cileungsi ini.

Harvest City menawarkan fasilitas yang komplet di kawasannya. Sebut saja demi satu. Di sini akan dibangun pusat belanja Harves City Mall, culinary market alias pasar moderen, commercial area atau kompleks ruko. The Harvest Walk, discovery park, sport center, urban forest, hingga foot carnival. Semua fasilitas tersebut nantinya terletak di area pusat bisnis ( CBD) Harvest City. Dengan banyaknya rencana menurut Erwin Kurniawan, Manajer Penjualan Harvest City, pengembangan Harvest City akan dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, pengembangan baru dilakukan di atas lahan seluas 150 hektare saja.

Erwin berani bilang komitmen perusahaan mengembangkan kawasan ini terbilang kuat. Buktinya, dari pengembangan lahan seluas 1.050ha, Dwikarya sudag rampung membebeskan hingga mencapai 750 ha lahan. “ Ini adalah Land yang kami persiapkan jauh –jauh hari. Mungkin sudah sepuluh tahun kami memilikinya, “ ujar Erwin.

Pada tahap pertama ini, pengembang akan menggarap kawasan permukiman, serta pusat bisnis yang ada di bagian tengah kawasan. Hanya, pada tahap awal, Dwikarya akan lebih fokos untuk membangun rumah –rumah tipe kecil atau high density. Targetnya, Dwikarya akan membangun 5.000unit hunian pada tahap awal. “ Tipe kecil banyak dipakai sebagai rumah pertama yang akan ditinggali oleh pembelinya, sehingga Harvest kelihatan hidup, “ ujar Erwin.

Ada dua jenis perumahan yang ditawarkan. Pertama, jenis realestat. Kedua, jenis rumah sederhana yang mendapatkan subsidi pemerintah. Untuk rumah sederhana, saat ini Harves telah menawarkan kluster Bromela sebanyak 250 unit. Kluster ini terdiri dari dua tipe, yakni tipe Bouhenia I ( 22m2/ 60m2) dan tipe Bouhenia II ( 22m2/ 65m2). Banderol harga dua tipe itu mulai dari Rp 53juta. Selain kluster Bromelia, Harvest City juga tengah meluncurkan rumah rumah sederhana pada kluster Durio. “ Sekitar 236 unit sudah terjual dalam tempo tiga hari, “ kata Erwin. Kluster ini mempunyai tipe rumah sama persis dengan kluser Bromelia.

Sementara itu, untuk jens rumah realestat, pengembang Harvest City baru membuka kluster Dianthus yang menempati lahan seluas 24hektare. Dari total 150 unit rumah yang ditawarkan di kluster Diantus, Dwikarya merancang tiga tipe hunian. Yakni, rumah berukuran 43m2/78m2 , 51m2/ 112m2, dan 66m2. pengembang mematok harga rumah jenis realistat ini mulai Rp 250juta.

Pengembang juga menjanjikan pembangunan berbagai fasilitas pendukung ini di setiap tahap. “ Kami akan melengkapi semua fasilitaas, tapi besar kecilnya tergantung penghuni yang ada di lingkungan seluas 150hektare itu, ujar Erwin. Tak hanya itu. Erwin menyatakan, pengembang juga akan mengusahakan fasilitas yang tersedia di tahap satu, tahap dua, dan tahap tiga mempunyai karakteristik masing- masing.

Butuh waktu lama untuk berkembang Selanjutnya , pada tahap dua pengembang mulai menggarap rumah medium density yang terdiri dari rumah –rumah berukuran besar. Lahan yang disediakan untuk komplek s hunian ini seluas 100hektare.

Berbaengan dengan pembangunan rumah , pengembang juga akan membangun area komersial seluas 300hektare . tak lupa, pengembang menyediakan lahan untuk pusat bisnis Harvest City . Di area pengembangan tahap kedua ini pula akan melintas ruas jalan tol Cimangis – Cibitung yang merupakan bagian dari proyek Jakarta Outer Ring Road ( JORR) II. “

Ini nilai strateginya, Harvest berada di pertengahan antara Jakarta , Bogor dan Bekasi , “ ujar Erwin berpromosi. Tahap ketiga yang merupakan pengembangan tahap terakhir, Dwikarya akan mengembangkan klomplek hunian low density dan High rise building. Di tahap ini pula, pengembang mulai menyediakan kawasan industri ringan ( ligh industry ) yang focus pada penyediaan fasilitas ruang pengundangan.

Melihat konsep pengembangan nya , boleh jadi Harvest City menyimpan prospek yang cukup bagus. Apalagi perluasan megapolitan Jakarta kelak pasti juga akan mencapai Ciulengsi.

Cuma, seperti Ali bilang, arah pengembangan Cibubur yang melebar menyebabkan pengembangan Ciulengsi ini makan waktu yang relative lama. Meski begitu, melihat target pasar yang ditetapkan pengembang, mungkin itu bisa mempercepat laju pertumbuhan Ciulengsi. Banderol harga rumah realestat dalam kisaran Rp 200juta, menurut Ali, sesuai dengan harga pasar rumah di Ciulengsi yangposisinya ada di bawah Cibubur. Seperti kita ketahui, pasar perumahan di kelas ini sangat besar.

Nyatanya, memang tidak salah HarvestCity menyasar konsumen kelas menengah dari professional muda untuk properti huniannya. Hal ini terlihat dari penjualan rumah – rumah tipe kecil yang laris manis. Dengan begitu, ada harapan Harvest CITY in ibis juga mendongkrak perkembangan Ciulengsi. Sayangnya, melihat skala pembangunan yang sangat besar, tentu saja pengembang yang sangat besar, tentu saja pengembang yang sangat besar, tentu saja pengembang butuh waktu panjang pula untuk merampungkan seluruh proyeknya.

Bahkan, dari awal pihak pengembang sudah menyatyakan bahwa proyek Harvest City ini merupakan proyek jangka panjang. “ Semuanya diperkirakan akan selesai dalam waktu 25 tahun, “ ujar Erwin. Oleh karena itu, untuk meneropong prospek Harvest City ini, calon konsumen juga harus mencermati konsistensi pengembang dalam mengembangkan lahanya. Apakah developer benar benar memenuhi semua fasilitas sesuai dengan rencana. “ Prospeknya bagus, tapi konsumen mesti cermat saja, “ ujar Anton.

Dari pengamatan KONTAN , saat ini tengah berlangsung pengerukan tanah di lokasi. Ketika melihat rumah contoh yang berjarak kurang lebih 2kilometer relative mulus. Begitu pula dengan fasilitas listrik yang juga sudah mulai terpasang.

Mau Menandingi Cibubur

Selain membuat semarak Ciulengsi, tak tertutup kemungkinan Harvest City akan mengimbangi geliat pertumbuhan properti di Cibubur. Soalnya, luas lahan Harvest City yang 1.050ha jelas mengungguli Cibubur yang hanya punya izin prinsip atas pengembangan lahan 1.000ha. luas lahan yang dikuasai PT Dwikarya Langgeng Sukses ini hanya bisa dikalahkan oleh proyek Bukit Jonggol seluas 30.000ha. Pengembang an Harvest City kelak akan menciptakan persaingan antar produk properti di Cibubur. Maklum saya, cukup banyak pengembang yang bercokol di wilayah Cibubur. Dari pengembangan kecil yang mengembangkan townhouse hingga pengembang besar seperti Group Duta Pertiwi dengan Kota wisata dan Legenda Wisatanya. Ada juga Grup Puribrasali yang membangun perumahan The Anddres. Tak pelak, Hrvest City bisa menjadi pesaing tangguh.

Apalagi, adanya ruas tol Cimanggis – Cibitung akan memudahkan akses menuju Ciulengsi yang pasti akan memberi nilai tambah kota ini. Jika Dwikarya konsisten pada pengembangan sesuai dengan rencana, tentu saja dia akan menjadi ancaman bagi pengembang di Cibubur. Soalnya, pada tahap selanjutnya, ketika Harvest City mulai mendirikan rumah –rumah mewah, kota ini akan bersaing sengit dengan pengembang di kawasan Cibubur.

Apalagi, melihat sepak terjang nya, ketiga pemain properti yang ada dalam bendera Dwikarya ini bukanlah pengembang kemarin sore. Mereka pun bukan pemain bau kencur di daerah Cibubur. Tiga pengembang itu punya spesialis masing- masing di proyek hunian.

Grup Suryamas Dutamakmur yang punya kode saham di Bursa Efek Indonesia SMDM merupakan pengembang perumahan mewah seperti Rancamaya Golf di Rancamaya, Bogor, dan Mahagany Residenses di Cibubur .

Sementara grop Duta Putera Mahkota dan Kentanix Supra International lebih banyak mengantongi portofolio hunian skala menengah kebawah, seperti Bukit Golf Cibubur Reverside di Cibubur, Vila Nusa Indah I hingga VILA Nusa Indah lima di Bekasi, dan Vila Dago di pamulang, tangerang

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx



Cileungsi Lari Cepat, Saat Cibubur Telah Padat

Sungguh, Cibubur satu dekade silam, belumlah pantas dilirik. Kini, tak satu jengkal pun lahan kosong tak bertuan. Kekinian Cibubur adalah etalase perumahan berbagai kelas. Yang termurah seharga Rp250 juta dan tertinggi Rp3 miliar. Belum lagi parade bangunan komersial ritel yang memenuhi setiap sudut kawasan. Cibubur sekarang, jauh lebih hidup dan untuk itu, menyisakan banyak juga masalah. Tumpang tindih penataan ruang, dan silang sengketa kepentingan di antara tiga pemegang wilayah. Sekadar informasi, kawasan ini bertepian langsung dengan tiga kota; Bogor, Bekasi, dan Depok.

Lupakan Cibubur yang kian sesak dan padat. Mari beralih ke arah timurnya, yakni ruas Cileungsi-Narogong-Jonggol. Harga lahan yang sangat bersahabat bahkan bagi pengembang, ikut memicu perkembangan koridor ini. Mereka berlomba mengoleksi lahan seluas-luasnya demi merealisasikan mimpi menangkap pasar perumahan yang tak terakomodasi lagi oleh kawasan Cibubur. Ada beberapa pengembang kakap yang sudah dan bahkan baru memulai peruntungan di sini. PT Metropolitan Land Development dengan Taman Cileungsi dan Taman Metropolitan, Grup Ciputra dengan Citra Indah dan PT Dwikarya Langgeng Sukses (konsorsium tiga pengembang Grup Duta Putra, Kenatinx Supra International dan Grup Suryamas Dutamakmur) yang menawarkan Harvest City, sekadar menyebut contoh.

Harvest City, menjadi buah bibir. Luas lahannya saja mencapai 1.050 hektar. Lokasinya berseberangan dengan Taman Buah Mekarsari dan rencananya akan berisi 10 ribu unit rumah. Kelas yang ditawarkan pun variatif, mulai dari bawah, menengah dan atas. Pengembangannya dilakukan secara bertahap. Tahap awal, akan dikembangkan 150 hektar. Harvest City melengkapi perumahannya dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti mall, ruko, rumah ibadah, dan sarana olahraga.

Menyusul popularitas Harvest City adalah Citra Indah. Perumahan ini sejatinya dikembangkan sejak 1997dengan konsentrasi penggarapan pada harga Rp50 jutaan. Kelas ini sengaja disasar mempertimbangkan kondisi kawasan yang juga berkembang sebagai kawasan industri. Sehingga menarik banyak pekerja yang berhasrat memiliki rumah sesuai dengan pendapatan mereka. Laiknya pengembangan perumahan milik Grup Ciputra lainnya, Citra Indah juga menyediakan rumah tipe menengah dan besar dengan kisaran harga di atas Rp350 juta.

Sementara PT Metropolitan Land Development kian gencar dengan Taman Metropolitan-nya. Menurut Nanda Widya, Direktur Utama PT Metropolitan Land Development, tahun ini Taman Metropolitan akan dimaksimalkan pengembangannya. Ada dua klaster yang tengah dibangun yakni Gloxinia berdimensi 45/90 hingga 86/219 dengan harga berkisar antara Rp 276 juta hingga Rp628 juta. Dan Taman Gandaria yang ditawarkan serentang Rp200 juta-400 juta.

Selain itu beberapa perumahan lain juga menyemarakkan kawasan ini. Di sekitar flyover, tepatnya di ruas Jl. Raya Narogong terdapat setidaknya lima perumahan; Cileungsi Hijau, Duta Mekar Sari, Taman Cileungsi, Villa Permata Mas, dan Putri Indah. Menyusul kemudian Bukit Putra yang berada di Jl. Raya Jonggol. Ini merupakan perumahan lama yang dimodifikasi menjadi baru. Terlihat dari pengembangan eksisting rumah-rumah bergaya tahun 1990-an dan infrastruktur jalan yang sudah terbangun. Mereka saat ini sedang memasarkan rumah seharga Rp55 juta-200 juta. Beranjak ke arah Citeureup, Grup ISPI percaya diri melansir Mutiara Venezia Residence. Harga rumah yang ditawarkan tak jauh beda dengan pendahulunya.

Bergeraknya aktifitas konstruksi dan transaksi properti, tercatat Taman Metropolitan mampu menjual 10 unit per bulan, tak lepas dari rencana pengembangan ruas tol JORR II yang menghubungkan Cimanggis-Cibitung. Kelak jika ini terealisasi, warga Cileungsi-Narogong-Jonggol, akan diuntungkan karena aksesibilitasnya langsung terkoneksi dengan ruas tol Jagorawi dan Cikampek. Dengan demikian, kawasan ini makin terbuka untuk terus tumbuh dan menjelma sebagai alternatif destinasi hunian dan investasi.

Apalagi, para pengembang ini tak sekadar membangun properti. Mereka juga membangun komunitas dengan menyediakan fasilitas standar untuk memenuhi kebutuhan warganya yang diperkirakan jumlahnya menyamai penduduk sekelas kota adminsitratif. Seperti fitur yang akan didirikan oleh Harvest City. Mereka tengah bersiap melansir Harvest City Mall, Culinary Market, The Harvest Walk, Discovery Park, Sport Center, Urban Forest dan Food Carnaval yang kesemuanya berada pada area komersial.

Yakin kawasannya akan berkembang, Taman Metropolitan pun tak ketinggalan. Ke depan mereka akan melangkapi proyeknya dengan sebuah pusat belanja dan komersial ritel lainnya. “Kami sadar ruas tol ini akan memberikan nilai tambah, untuk itu kami mengantisipasinya dengan dengan terus melakukan pengembangan strategis,” jelas Nanda.

Walhasil tak hanya kawasannya yang akan berkembang. Harga tanah di sekitar Jl Raya Cileungsi pun mulai terkerek naik. Dua tahun lalu masih dapat ditemui harga tanah Rp100 ribu/m2 hingga Rp200 ribu/m2 tetapi saat ini seperti di Harvest City harga tanahnya sudah mencapai angka Rp500 ribu/m2, begitu pun dengan Taman Metropolitan yang terus merangkak. Apalagi jika pembangunan tol JORR II rampung, harga diproyeksikan melonjak 30-50%.

Sumber: Properti Indonesia edisi Agustus 2009

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx



Melayangkan Pandang ke Selatan Jakarta
Kompas Kamis, 19/3/2009 | 15:09 WIB

Area ini sejak awal memang lebih diperuntukkan sebagai hunian. Hal ini tak lepas dari kondisi alamnya yang relatif lebih asri dibandingkan wilayah ibukota. Mulai dari kondisi air yang masih jernih, lingkungan yang masih relatif hijau, maupun telah berkembangnya kawasan secara penuh dengan banyaknya area komersial dan fasilitas umum.

Sejak dulu, kawasan ini menyerap market yang tinggi. Meski area Cibubur sudah semakin penuh, bukan berarti masing-masing pengembang di setiap kawasan berhenti melakukan pembangunan. Selain menambah jumlah cluster hunian, di antaranya juga melengkapi fasilitas yang tersedia dalam kawasan untuk meningkatkan kenyamanan penghuni.

Tak heran jika akhirnya Cibubur tetap dilirik oleh warga komuter. Penjualan properti di daerah ini pun terus bergeliat, meski beberapa pengembang mengakui adanya sedikit penurunan dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Tengok saja misalnya perumahan Raffles Hills yang dikenal dengan tata lingkungannya yang sangat asri. Dengan banyaknya pepohonan dan pembangunan yang disesuaikan dengan lanskap asli, menjadikannya sebuah hunian ideal untuk berelaksasi secara maksimal.

Salah satu pionir properti di daerah Cibubur ini pun masih terus meluncurkan cluster terbarunya di tahun lalu. Sesuai dengan konsep awalnya membangun hunian di dalam taman, meski terus merambah wilayah baru untuk pembangunan cluster anyar, Raffles Hills tetap mempertahankan adanya lahan hijau terbuka sebesar 40% dari total wilayahnya yang sebesar 250 hektar. Komposisi 40:60 untuk bangunan ini pun diterapkan pada pembangunan tiap unit rumahnya untuk mempertahankan kondisi asri, demikian penjelasan Mellisa Chandra, Marketing Manager PT Gunungsubur Sentosa.

Di samping itu, meski Cibubur bebas dari track record banjir-berhubung letak geografisnya yang cukup tinggi yaitu sekitar 70-90m di atas permukaan laut-sistem pengelolaan air dilakukan secara seksama. Diantaranya dengan membuat sistem serapan air di setiap unit rumah sehingga air yang keluar tidak terbuang percuma.

Cileungsi

Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan Cileungsi. Kawasan yang merupakan bagian dari pemekaran pembangunan Cibubur ini mulai mendapat perhatian dari banyak pengembang. Mulai dari pengembang kecil, menengah, hingga berskala besar seperti Harvest City, yang secara sinergis semakin menggairahkan kawasan.

Daerah ini mulai bergeliat sejak dibukanya jalur Narogong-Bekasi dan memiliki potensi besar apabila ruas tol JORR II terealisir, yang bisa memicu hingga daerah Cimanggis, Depok. Dengan demikian, untuk mengakses Cileungsi tak perlu lagi melewati jalan Trans Yogi yang kini mulai padat, khususnya di jam-jam sibuk.

Di sisi lain, jalan menuju daerah Tambun, Bekasi nantinya juga akan ditingkatkan dari semula jalan kabupaten menjadi jalan propinsi. Jika semua hat tersebut sudah tercapai, maka secara sinergis akan menjadi akselerator bagi perkembangan Cileungsi.

Salah satu perumahan yang konsisten dalam membangun dan mengembangkan kawasannya hingga kini adalah Taman Cileungsi. Perumahan yang ditujukan untuk kelas rumah sederhana ini mulai melebarkan segmennya dengan mengambil pasar menengah. Jika sebelumnya memasarkan unit rumah dengan kisaran harga Rp 55-70 juta, kini Cluster Anggrek yang baru diluncurkan dipatok dengan harga Rp 55-200 juta.

"Justru sejak Cluster Anggrek diluncurkan pada Februari lalu, yang lebih banyak terjual tipe rumah besarnya," jelas Nitik Hening Muji Raharjo, General Manager PT Metropolitan Land.

Meski terjadi penurunan sejak adanya krisis global, namun penjualan tetap berlangsung dan pengurangan yang terjadi jika dibandingkan tahun lalu-tidak signifikan. Cluster Anggrek, misalnya, yang kurang lebih selama sebulan ini telah mencapai penjualan sekitar 15 persennya.

Pelebaran segmen ini pun ditunjang dengan pembangunan fasilitas kawasan. Di antaranya dengan lebar jalan ROW 8 m, pengelolaan kawasan yang masih dipegang oleh pengembang untuk masalah kebersihan, tata lingkungan, maupun pengelolaan air.

Meski relatif aman dari banjir, namun persiapan sudah dilakukan sejak dini untuk mengantisipasi 10-20 tahun mendatang. Yaitu dengan membuat boundary drain di sekeliling lingkungan perumahan yang mencegah air di luar kawasan masuk. Di samping itu dibuat pula danau seluas 1 ha sebagai penampungan air sementara.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx



'Kelatahan' yang menjalar ke daerah
Written by http://web.bisnis.com Sabtu, 07/11/2009

Saat ini, hunian di kompleks perumahan terpadu sepertinya lebih diminati oleh konsumen. Beragam fasilitas yang dijanjikan pengembang menjadi salah satu alasan konsumen menjatuhkan pilihan mereka pada kompleks hunian terpadu.

Tingginya animo masyarakat terhadap kompleks hunian terpadu itulah yang membuat pengembangan kota mandiri tak berhenti hingga di daerah sekitar Jakarta saja. Developer di daerah pun ikut latah mengusung konsep kota mandiri dalam memasarkan produk properti mereka.

Hingga saat ini, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSD) masih merupakan pengembang yang berhasil mengantongi izin pengembangan kota mandiri paling luas yakni mencapai 6.000 hektare. Pada akhir tahun lalu kelompok usaha Sinar Mas ini berhasil merampungkan BSD City tahap I dan tengah memacu pengembangan tahap II. Butuh waktu sekitar 20 tahun untuk membangun BSD City tahap I di atas lahan seluas 1.500 hektare.

Pada tahap II, BSD akan lebih memperbanyak kawasan komersial dan pusat bisnis. Pengembangan hunian pun tidak diarahkan pada hunian konvensional (landed houses) dan ruko, tetapi memperbanyak gedung bertingkat seperti ruang kantor, apartemen, dan kawasan niaga. Lahan yang disiapkan mencapai 2.000 hektare dan ditargetkan rampung pada 2020.

"Kami akan menyediakan lahan cukup luas untuk membangun pusat bisnis baru dengan konsep mixed used development pada tahap ini," kata Presiden Direktur BSD Harry Hartanto.

Di Tangerang, persaingan kota mandiri cukup sengit. Selain BSD, sejumlah proyek di Serpong dan Bintaro, ikut mengusung konsep kota mandiri seperti Paramount Serpong dan Alam Sutera. Di Koridor timur juga tak kalah menarik. Sejumlah proyek hunian skala besar tengah dipacu di antaranya Lippo Cikarang, Kota Delta Mas, dan Kota Jababeka.

Pengembangan perumahan skala besar ke sisi timur dan barat Jakarta ini memang sudah sesuai dengan rencana tata ruang Jabodetabek, dengan mengikuti jalan tol yang sudah ada. Namun, Bogor, yang ada di selatan Jakarta, juga tak mau ketinggalan dalam pembangunan kota mandiri.

Di Bogor, proyek hunian skala luas lebih banyak lagi, mulai dari Sentul City, Bogor Nirwana Residence, Harvest City, Grand Wisata, dan Citra Indah. Pembangunan kota mandiri di Bogor yang tersebar di Sentul, Cibubur, dan Cileungsi lebih lambat lagi karena baru digarap belakangan.

Kreativitas menyebar

Belakangan, konsep kota mandiri dibawa oleh sejumlah developer nasional ke daerah. Ciputra Group adalah salah satu pengembang yang agresif membangun kota mandiri di sejumlah ibu kota provinsi, termasuk luar Jawa. Sejumlah proyek yang tengah digarap di antaranya Citra Garden Lampung, Citra Garden Banjarmasin, Citra Land City Samarinda, Citra Indah Balikpapan, Citra Grand City Palembang, dan Citra Land Celebes Makassar.

Developer lokal dan pemda di daerah lain juga tak kalah ingin mengembangkan konsep kota mandiri. Kota Batu di Jawa Timur misalnya, ingin membangun kota mandiri untuk membagi beban kota dengan Malang. Berdasarkan catatan Bisnis, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko langsung mengundang pengembang, terutama anggota Real Estat Indonesia (REI) Komisariat Malang untuk membangun kota mandiri di Kota Batu.

Di kawasan Padalarang Kabupaten Bandung, proyek perumahan Kota Baru Parahyangan juga mengklaim akan dikembangkan menjadi kota mandiri baru untuk mengurangi beban Kota Bandung.

Di Surabaya Timur, Grup Pakuwon Development juga berambisi menjadikan proyek Pakuwon City menjadi kota mandiri terpadu. Proyek lain di luar Jawa mulai bermunculan. Meskipun, tak selamanya konsep yang diusung itu adalah konsep yang ideal. Proyek hunian masih digarap pada lahan kurang dari 100 hektare. Interpretasi kota mandiri bagi pengembang di daerah juga berbeda-beda.

Idealnya, sebuah kawasan disebut sebagai kota mandiri jika memenuhi beberapa kriteria seperti luas kawasan minimal 1.000 hektare. Selain itu, pengembangan kawasan itu juga menerapkan konsep terintegrasi dan memberi kontribusi bagi pengembangan kawasan di tempat lain.

Dari tahapan atau siklus pertumbuhan kota, biasanya pengembangan kota mandiri melalui beberapa fase. Tahap awal, terwujudnya perumahan dari rumah kecil sampai besar dan mengumpulkan banyak penghuni sampai skala tertentu.

Fase kedua adalah mulai membangun tempat-tempat bekerja dan kawasan komersial untuk memenuhi kebutuhan dasar penghuni seperti rumah toko, dan pusat belanja, dan fasilitas publik. Fase terakhir adalah membangun pusat niaga yang lebih besar atau kalau memungkinkan membangun kawasan industri baru.

Jika konsep kota mandiri secara ideal diterapkan, dipastikan pembangunan kota akan menyebar yang mampu mengurangi beban di pusat kota yang lama. (dadan.muhanda @bisnis.co.id)

Oleh A. Dadan Muhanda
Wartawan Bisnis Indonesia

indoroids
Warga baru
Warga baru

Jumlah posting: 4
Registration date: 18.04.09

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Harvest City perumahan baru di Cileungsi

Post  dentar on Mon Nov 29, 2010 9:57 pm

jangan dikoment..biarin aja.., bingung soalnya mau kasih koment nya juga..Very Happy

buat pembaca: rumah anda di HC jangan dijual..!

menerima-pesanan-pembuatan-gambar-3-dimensi-dan-gambar-kerja

dentar
Ketua RT
Ketua RT

Jumlah posting: 55
Registration date: 28.09.10

Lihat profil user http://denmasku.blogspot.com/

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik